Posts Tagged ‘cerpen’

Bulan Ketiga

Posted: June 21, 2008 in cerita pendek
Tags:

Entah matahari yang terlambat datang, atau aku yang terlalu bersemangat pergi sekolah? Walaupun semalaman aku begadang membaca bolak-balik tentang Teori Relativitas Einstein, niatku untuk bertemu Khansa enggak juga menipis. Masih tebal, bahkan lebih tebal dari 3 bulan yang lalu saat aku ‘menembak’ cewe incaran para cowo di sekolah ini. Wajahnya yang cantik sebanding dengan tingkahnya yang membuat kaum Adam serasa dikirim ke langit ketujuh, selalu terbayang dalam pikiranku.

Harus ku akui selain karena ada ulangan Fisika, tepat hari ini adalah hari bersejarah untuk aku dan Khansa yang seakan mengulang manisnya 3 bulan yang lalu. Wajar kalau aku menarik kencang gas motorku ini untuk sampai di sekolah dan bertemu Khansa. Heuheu!

Tepat pukul enam lebih sembilan menit, motor bebek hijau (warna favorit Khansa) sudah ku parkirkan di halaman sekolah. Motor ini adalah yang paling keren diantara motor yang diparkir. Se’engganya sampai motor lain menuhin halaman parkir. Terlebih lagi kalau motor Ninja Merah milik temanku Joy parkir tepat disamping motorku. Kabanting pisan!

Ya! Aku adalah siswa pertama yang menginjakkan kaki di sekolah, tapi enggak kalau dibandingkan dengan Pak Dandang. Guru yang punya keahlian khusus mencari siswa yang melanggar peraturan ini sudah stand by di depan gerbang sekolah. Walaupun ada siswa yang datang subuh (supaya gak kena razia), tapi sixth sense guru nyebelin ini selalu berbuah tangkapan segar.

Kalau aku sih enjoy aja! Setauku, aku tidak melanggar satu peraturan pun sekarang. Sepatu hitam, tali dan kaos kakinya putih, celanaku gak cutbray atapun rock ‘n roll, nama, lokasi dan badge sekolah juga terpasang, rambutku juga rapih en stylist. Aku melewati Pak Dandang dengan sedikit senyum dan anggukkan kepala.

“Assalamualikum, Pak! Stand by terus nieh!”

“Wa’alaikumsalam! Coba jaketnya buka!”, Pak Dandang sambil penunjukan telunjuk kanannya padaku.

Aku agak kaget dan menghentikan langkah pede-ku.

“O..o..ooo, iya Pak, lupa!”

Setelah kubuka, Pak Dandang memeriksa kelengkapan seragamku. Aku sih santai saja, toh gak ada yang kurang.

“Ehem!”, suara tenggorokannya yang kasar menandakan ada sesuatu yang tidak dia suka.

“Keee…ke…keenapa Pak? Lengkap kan?!”

“Memang lengkap! Tapi tolong gelangnya copot dan berikan pada bapak! Cepat..!”, liriknya pada karet hijau-biru yang mengunci pergelangan tangan kiriku.

Ahhh! Celaka! Aku lupa memakai gelang pemberian Khansa ini di saat yang ga tepat. Gelang sederhana tapi bermakna ini punya arti yang penting untuk aku dan Khansa. Gelang ini adalah pemberian Mamihnya Khansa yang telah tiada. Dan aku satu-satunya orang yang dipercayakan Khansa untuk menyimpan gelang karet ini selain dia (karena gelang ini sepasang). Setahuku barang yang sudah “dititipkan” pada Pak Dandang akan hilang atau paling banter kembali dalam keadaan tak utuh. Benar-benar sial!

“Aduh Pak, jangan donk! Mendingan saya aja yang simpen, please pak please….!”

“Tiiiiiidak!!! Cepat buka dan serahkan pada bapak!”

“Ah, Pak! Jangan donk pa, anggep impas aja karena saya siswa yang dateng pertama, ya..ya..ya!”

“Sekali lagi bapak bilang, CEPAT BERIKAN!”

Heueueueh, kesalku dalam hati. Kalu bukan guru, sudah ku tendang ‘burung’-nya, biar tau rasa. Memang inilah kebiasaanku kalau menghadapi orang rese. Dan terbukti manjur. Setelah ditendang, korbanku langsung diam sambil memegang ‘burung’-nya.

“Aduh Pak, please, sekaliiii aja! Gelang ini punya makna yang dalem buat say…..!”

“Tidak ada alasan apapun, yang jelas kamu sedah melanggar peraturan! Kamu tinggal pilih, serahkan ke bapak atau kamu yang pulang tidak mengikuti belajar hari ini dengan keterangan ‘alfa’.”, serobot guru keras kepala ini.

Ah, pilihan yang sulit bagiku! Gak bisa aku bayangkan kalau aku alfa dalam pelajaran fisika Bu Dela, apalagi sekarang ujian ‘Teori Relativitas Einstein’ yang penting bagi nilai raportku. Guru killer yang satu ini juga paling anti terhadap remedial ataupun susulan. Gosip yang beredar nieh, katanya dilihat dari garis keturunan Bu Dela yang nama panjangnya Candela Nura’eni ini empat turunan pelahap fisika, ini bisa dilihat dari namanya. ‘Candela’ berarti satuan dalam intensitas cahaya. Ayahnya bernama Isak Hendro. Nama depan ‘Isak’ diambil dari nama Isaac Newton, ilmuan yang berjasa dalam mengungkap teori dinamika partikel. Kakeknya bernama Ahmad Galiley. ‘Galiley’ diambil dari nama belakang Galileo, yaitu Galileo Galiley. Begitulah seterusnya sampai garis keturunan ketiga diatasnya. Barulah leluhurnya yang keempat yang bernama Supardjo Suryodikusomo. Nama yang cukup keren di era tahun 1800-an. Aneh memang, tapi aku setengah percaya ketika merasakan ketegangan belajar dengan Bu Dela. Hehe.

Ah, itu cuma nostalgila! Kembali aku terfokus pada tubuh besar-pendek alias buntet yang berkumis tebal ini.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya aku mencoba melepaskan gelang karet ini.

“Oke lah Pak..!”, ucapku lemas.

Gelang tinggal setengah perjalanan lagi keluar dari tangan, seperempat…seperdelapan, dan… Ah, wajah cantik Khansa terbesit di pikiranku. Apa jadinya kalau dia tahu gelangnya diambil Pa Dandang. Tidak..tidak!

Gelang tersebut kutarik mundur ke seperempat…setengah….dan tak jadi kukeluarkan. Alasannya cuma satu….KHANSA!

“Engga Pak ah! Mending saya gak usah sekolah aja lah!”, ucapku ragu dengan bayang-bayang Bu Dela.

“Ya sudah! Silakan…. kalau bapak melihat kamu di sekolah, bapak akan panggil orang tua kamu!”, tak ada raut ragu di wajah jelek itu, sambil mempersilakan aku keluar.

Cukup lama aku bernegosiasi dengan Pak Dandang, dan sekarang sudah banyak siswa yang menginjakan kaki di sekolah.

Dengan langkah gontai aku berjalan keluar gerbang sekolah. Aku hanya bisa meratapi masa depan yang blur dengan nilai fisika yang hancur berantakan karena melewatkan ujian terakhir yang jadi penentuan untuk menutupi nilai do,re,mi di ujian sebelumnya. Usahaku begadang belajar Fisika tampaknya sia-sia, tapi….

Setelah melihat Joy, Rei, dan Ferdi memarkir motornya tepat mengapit motor bebek hijau yang pudar ke-keren-annya disandingkan Ninja merah, aku rasa masa depanku tidak terlalu blur. Ide gila muncul dari pikiran jernih ‘Einstein muda’, hehehe!

“Huy, Guys! Morning-morning gini gw punya project bro!”, sapaku dengan akrab.

“Semangat lah! Berapa bagiannya?”, Rei ngeh.

“Asoy euy, lagi butuh tambahan pengasilan nieh!”, Joy gak kalah.

“Emang proyek apa, Bos??!”, si Ferdi gak sabar.

“Kemari guys, kita ngarempug!”, jawabku mendekati mereka.

Begitulah teman-temanku. Mengartikan kata ‘proyek’ dengan uang. Padahal proyek yang satu ini tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan uang.

Kami berempat jongkok sembari berkumpul melingkar di samping barisan motor. Aku ceritakan semuanya tentang Pak Dandang yang rese, gelang karet berharga dan hari spesial yang tepat hari ini. Aku harap mereka ngerti.

“Ah, gak ber-uang! Gak seru!”, joy bilang.

“Iya ah, di kirain proyek apaan!”, tambah Rei.

“Ayolah, guys! Come on! Please…help me!”, rayuku.

“Aduh Friend, gmana ya…”, jawab Rei mencoba berulah padaku.

Aku mulai kesal. Orang rese memang paling aku benci. Dan… tibalah saat jurus mautku dikeluarkan. Ku ambil kuda-kuda.

“Ii..ii..iya..iya, calm down and everything will be ok!”, ucap Rei so inggris. Tampaknya dia sudah hapal kuda-kuda yang kupersiapkan untuk menendang ‘burung’-nya. Untuk cowo mesum seperti dia ‘burung’ adalah segalanya. Hehehe! Aku, Joy dan Ferdi tertawa kecil melihat tingkah Rei.

“Ya udah, ayo kita come on, ah!Hehe!”, Ferdi yang dari tadi diam mulai bersuara.

“Sip guys! You’re my soulmate!”, timpalku. “Berlebihan memang!”, tambahku dalam hati.

Sekarang saatnya menjalankan misi. Mereka bertiga berjalan menghampiri Pak Dandang, dan aku jongkok terdiam di sini sampai saatnya tiba.

Kuperhatikan dari sini, sejauh ini rencana berjalan dengan lancar. Joy berhasil menghasut Pak Dandang kalau si Rei membawa DVD Biru dan Ferdi ikut memanaskan keadaan, sementara bocah masum Rei mencoba menyangkal tuduhan itu. Mereka seolah tak saling kenal. “Hehehe, cocok buat jadi bintang pelem nieh!”, ucapku dalam hati.

“Woy, si Rei bawa DVD bokep!”, Joy berteriak. Kontan teriakan itu mengundang perhatian banyak siswa yang lewat, dan keadaan pun berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk menyelinap masuk ke sekolah.

“Huuuhf, yes!!”, teriakku di dalam sekolah.

Aku berhasil memanfaatkan keadaan. Kuperhatikan tingkah kerumunan cowo yang mengelilingi Pak Dandang. Saat itu aku tertawa puas! Keperhatikan tingkah Rei, Joy dan Ferdi. Ketiganya gokil abis. Beruntung sekali aku memiliki teman seperti mereka. Beberapa saat kemudian, mereka bertiga berhasil keluar dari kerumunan dan masuk ke gerbang sekolah.

“Film Bokep jangan dibawa ke sekolah atuh!!Hehehe”, candaku pada mereka bertiga – terutama Rei.

“Hehehe, berisik ah!”, Rei ikut tertawa.

“Akting loe keren Rei! Hehehe!”, Ferdi bilang.

“Gw juga kale!”, balas Joy.

“Iya,iya, akting kalian keren, Guys! Thanks banget yaph!”, aku menyela.

Dan keadaanpun semakin girang. Kami berempat berkumpul membentuk lingkaran kecil dan menumpukan tangan kanan kami ditengahnya, lalu berteriak “Woy!!!”.

 

***

 

Aku dan ketiga sahabatku langsung meninggalkan kelas setelah bel pulang berbunyi. Pelajaran Fisika telah kulewati dengan lancar. Hampir semua pertanyaan dapat kujawab dengan baik. Masa depan semakin jelas saja! Tak lupa kubagikan jawaban kepada ketiga temanku yang berjasa besar hari ini.

“Guys, itu Khansa!”, ucap Ferdi padaku menunjuk pada cewe yang menghampiri kami.

Tepat sekali kedatangannya. Setelah 2 jam bersama Bu Dela, ketegangan terhapus oleh pesona Khansa. Cleopatra abad 20 itu berlari kecil ke arahku.

“Hei! Pasti abis pelajaran Bu Dela ya?!!”, Khansa memegang kedua tanganku.

Bisa kurasakan betapa irinya tiga orang di belakangku. Mereka hanya bisa menggigit jari, menunggu bidadari seperti Khansa turun dari langit.

“Hehe, tau aja! Untung kamu dateng, jadi ilang dech bete-nya!”, jawabku.

“Ah kmu bisa aja! Gombal banget sech! Hihihi..”, Khansa sambil mencubit perutku.

Memang untuk pasangan yang baru berumur 3 bulan sepertiku, bunga-bunga cinta sedang mekar-mekarnya. Walaupun banyak orang yang bilang, ‘Setelah tiga bulan pertama, bakalan ada masalah besar pertama yang bakalan dihadapin sama setiap pasangan!’, tapi itu gak terlalu aku hiraukan.

“Kita duluan, Bro!”, ucap Joy mewakili Rei dan Ferdi.

“Ok, thanks a lot yaph!”, jawabku.

“Gelang yang kamu pake cantik ya!”, Khansa membuka pembicaraan.

“Ya, kaya kamu!”,

“Tuch kan ngegombal lagi?! Kamu bisa aja.”,

“Sa, kok warnanya hijau-biru sech?!”, tanyaku padanya.

“Hmmm..! Hijau itu warna kesenangan Mamih yang sekarang menurun padakku. Hijau itu indah! Aku seneng ngeliat warna hijau, karena itu bisa ngebuat kita tenang, bahkan waktu kita rindu sama seseorang yang sangat kita cintai!”, Khansa diam sesaat, kedua matanya yang indah mulai berkaca-kaca.

Aku bisa menduga kalau dia teringat pada Mamihnya, dan aku tidak tahan kalau melihat gadis cantik ini menangis.

Tak sempat air matanya keluar, aku menyela, “Kalau biru artinya apa, Yang?”.

Khansa memalingkan pandangannya padaku, “ Biru artinya kamu!”.

“Aku!”, spontanku setengah kaget.

“Ya! kamu!”

“Tuch kan ikut-ikutan ngegombal! Hehe”, balasku

“Hihihi, kamu nie becanda terus ah! Biru itu kamu, seperti langit yang setia sama laut, setia juga sama bumi yang kadang selingkuh sama jingga-nya senja, dan sabar nunggu pekatnya malam!”, kata-kata indah itu keluar dari mulutnya yang manis.

Oh Tuhan! Sadarkanlah aku bila bermimpi! Ucapkku dalam hati. Langit ketujuh sepertinya tak jauh diatasku. Ga bakalan gini ceritanya kalu aku titipkan gelang ini pada Pak Dandang.

“Kalau aku langit yang setia! Senja sama gelapnya siapa donk? Jangan-jangan…!”, candaku padanya.

“E..e..eh, bukan gitu!! Aku gak puny….”

“Iya, aku bercanda kok. Hehehe!”, selaku.

“Ih, kamu jahat! Hihi.”

Tawanya yang manis, semakin meyakinkan diriku kalau aku sudah berada di langit ketujuh!

Yang, sebentar ya, aku mau ke sana dulu!”, Khansa meminta izin padaku.

“Oche! Langit ini akan selalu sabar menantimu!”, jawabku sambil tersenyum.

“Ah, kamu bisa aja! Awas lho jangan kemana-mana! Kalo ampe pergi, berarti kamu bukan langit yang aku maksud..!”, tegasnya padaku.

Aku sedikit tersentuh, dan Cleopatra abad 20 itu semakin menjauh dari pandanganku.

Dan sesaat setelah Khansa pergi, “Ah tidak!”, guru rese itu tampak menggantikan pandanganku dari Khansa. Sepertinya dia benar-benar melihatku! Aku jadi salah tingkah. Aku coba untuk mengendalikan diri. Pura-pura tak tahu, tapi Pak Dandang mendekatiku terus. Langkahnya semakin cepat ke arahku. Aku jadi gak karuan. Dan seketika itu aku berlari meninggalkan tempat duduk di koridor dan berlari menjauhi Pak Dandang. Langit ketujuh terasa menjauh dariku.

“Hei Kamu! Berhenti!!!”, teriak Pak Dandang.

Aku tak menjawab dan semakin kencang berlari. Tiba-tiba..

“Langitku, mau kemana?!!!!!”, itu suara Khansa.

Langkahku diperlambat, keadaanku semakin terdesak! Berhenti berarti Pak Dandang, terus berlari berarti Khansa. Seperti memakan buah simalakama! Akhirnya aku memutuskan untuk terus berlari saja.

“Khansaaaaaaa!!! Nanti aku SMS!!!!”, teriakku pada Khansa menggema ke seluruh ruang sekolah.

Gak peduli apa kata orang. Aku tinggal menunggu hari esok yang sepertinya blur!

“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”

Advertisements

Jam

Posted: January 19, 2008 in cerita pendek
Tags:

Hari ini sepertinya tidak lebih baik dari hari kemarin. Jam tanganku menunjukan pukul 6.28, artinya 17 menit lagi aku harus sudah sampai sekolah. Sambil membenarkan sweater, aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, tas gendong yang kujinjing terobang-ambing entah kemana. Aku langsung menyantap mie goreng yang ku kira telah Ayah sediakan untukku, maklum Ibu sedang dinas ke luar kota.

Ahgh, jangan di makan, itu punyaku!”, teriak adikku yang baru saja keluar dari dapur dengan tangan yang basah.

“Kaka bikin sendiri saja sana, jangan ganggu punyaku!”, tambahnya lagi.

“Heuheugh maafgh, terghlanjurgh!”, jawabku sambil terus mengunyah mie goreng ini.

“Ah, awas!”, dia merebut mangkok yang kubawa lari dan keadaanpun tidak bertambah baik.

Inilah kejadian yang hampir setiap pagi terjadi dirumah. Aku dan adik perempuanku yang baru kelas 2 SMP ini selalu berkelahi karena sesuatu hal yang sepele.

“Pah, berangkat!!!”, aku menyalami ayah yang ada di ruang tamu sambil menengadahkan tangan.

“Hmmm, ga pernah lupa ya!”, jawab ayah sembari mengeluarkan dompet, tampaknya ayah tau maksudku.

Aku tidak pernah lupa akan uang saku dalam situasi apapun, karena inilah nyawaku. Tanpa ini, aku akan menahan hasrat akan terpenuhinya tubuh ini dengan karbohidrat dalam perannya menghasilkan ATP (energi) pada metabolisme tubuh.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam!”

Aku tampak tergesa-gesa, menutup pintu rumah, membuka pagar, berlari dan menghela napas terpotong-potong. Kususuri jalan setapak sawah yang berada tepat di belakang rumahku. Kurasakan hembusan angin sepoi-sepoi membelai dan menghapus keresahan ini. Oksigen yang masuk ke hidungku dibawa oleh hemoglobin yang termuat dalam sel eritrosit, mengalir halus dengan deras, memukul-mukul jantung dan mengalir deras lewat nadi. Menghubungkan neuron sensorik, konektor dan motorik serta memfungsikan otak. Logika pun mulai digunakan, perasaan mulai menciut. Memang benar terkadang logika membawa kita terbebas dari suasana hati yang bergemuruh.

“Caheum jang!”, celetuk supir angkot yang mobilnya berhenti di depanku. Ku balas dia dengan lambaian tangan dan sedikit gelengan kepala.

Memang benar angkot yang semestinya aku naiki adalah jurusan Cicaheum, tapi berbagai pertimbangan aku lontarkan pada angkot itu –walupun dia tidak menjawab. Ku lihat bangku angkot itu baru terisi satu orang saja. Aku pun dapat menghitung waktu yang terpakai sampai ke tujuan jika kumasukan dalam rumus jarak dibagi kecepatan yang diterangkan oleh Pak Endang minggu lalu. Angkot ini tidak masuk dalam kriteria “angkot edan”, julukan yang kuberikan bagi angkot ala formula 1 dalam urusan menginjak pedal gas.

Dengan satu gerakan telunjuk saja, aku bisa hentikan angkot yang telah kubidik dari kejauhan. Aku duduk dengan seperempat kursi di dekat pintu. Terasa tak nyaman di bokongku tapi saat ini aku sedang mencari “angkot edan” yang bisa menyelamatkanku dari hapalan 20 ayat surat Al-Baqarah beserta arti harfiahnya yang diberikan Pak Andang karena terlambat masuk sekolah. Sesekali aku melirik jam tangan untuk memastikan waktu. Aku tidak sanggup menatap jam ini jelas-jelas karena itu berarti menatap Pak Andang yang tengah berjaga dengan tangan terlipat di depan dada.

“Kiri!”, ucapku bak mantra ajaib yang mengakhiri derita perjalanan sekaligus menghentikan angkot di depan sekolahku tercinta –SMAN 24 Bandung.

Aku turun dan memberikan dua lembar “kertas” kepada supir angkot.

Kulihat sekolah ini sudah sepi dari hiruk pikuk siswa memasuki gerbang, hanya tiga siswa yang kulihat nasibnya sama denganku. Feel-ku sudah tidak enak. Polisi yang berjaga untuk menyebrangkan anak sekolah pun sudah tidak ada. Ku lirik kembali jam tanganku, jarum panjangnya menunjukan angka 12. “Ahgh!!!!”, ucapku dalam hati sambil membayangkan apa yang akan terjadi.

Dengan tingkah yang dingin, aku mulai memasuki gerbang. Ku perhatikan keadaan sekitar, sambil berdo’a agar Pak Andang tidak keluar dari sarangnya.

“Ah!”, ucapku dalam hati. Lagi-lagi do’aku tidak terkabul, mungkin karena aku lupa shalat subuh. Pak Andang keluar dari ruang lobi dan menatapku.

Beurang keneh, euy!”, celetuk Pak Andang sambil tersenyum. Sindiran ini kuladeni dengan muka menunduk dan langkah yang semakin pelan. Aku sudah siap dengan semua konsekuensinya.

 Ternyata Allah masih sayang padaku, Pak Andang masuk kembali ke lobi hendak mengambil sesuatu yang tertinggal. Momen ini tidak ku sia-siakan, seketika itu aku berlari menuju kelasku.

Aku mulai heran dengan hari ini. Mengapa tadi Pak Andang tidak memanggilku dan membawaku ke “ruang eksekusi”. Tetapi keherananku itu terhenti saat akau berhadapan dengan pintu kelas yang tertutup rapat, ketegangan pun mulai muncul.  “Assalamualikum.”, ucapku sambil membuka perlahan pintu itu. Aku heran, ternyata kelas masih kosong. Aku masuk dan menyimpan tas gendong di bangku. Keherananku pun kembali menjadi. Ku pandangi jam tanganku, jarum panjangnya menunjuk ke arah angka satu, tak berbeda dengan jam dinding kelas. Kuperhatkan kembali jam tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka tujuh, seketika itu aku melihat jam dinding, dan aku terkejut karena jarum pendeknya menunjuk ke angka enam.

 Ah, aku mulai sadar akan semua ini. Aku lupa, kemarin aku telah menambahkan satu jam lebih cepat pada jam tanganku agar besok (hari ini) aku dapat datang lebih awal, dan itu telah menjadi kenyataan. Aku adalah orang pertama yang menginjakan kaki di kelas pada hari ini. Ternyata cara bodoh seperti ini ampuh juga dalam melawan kebiasaanku yang tak kalah bodohnya.