Diam

Posted: May 18, 2008 in diary
Tags:

Yang kurasakan sekarang adalah rumah ini seperti neraka! Aku ingin pergi dari penjara ini, berkelana sendiri, hidup sendiri! Aku seperti anak yatim piatu yang ingin mengejar cita-cita. Aku ingin terbebas dari himpitan batu yang terus menerus menerjang. Ingin ku manfaatkan celah antara batu-batu itu untuk menemukan setitik kilapan biasan sinar.Aku ingin keluar! Ingin kurasakan asam garam dengan kepuasan yang tak terkira. Ingin ku melangkah di jalan penuh kerikil agar kuambil perihnya dan kucerna pelajarannya. Ingin aku melangkah ke jurang yang tak pernah ku tahu sebelumnya dan memulai dari titik nol!

Aku tahu, aku begitu egois hingga memikirkan diriku sendiri! Tapi sepertinya ini adalah jalan yang terbaik agar jiwa raga ini puas ditumpahi hujan perjuangan untuk menemukan diriku yang sebenarnya.

Apa yang kamu rasakan bila sesuatu ingin kita persembahkan kepada orang yang sangat kita cintai dilecehkan begitu saja oleh orang itu. Mungkin selama ini, itulah caraku menyimpan cita-cita yang tak mereka duga sebelumnya.

Aku bukan orang yang pandai menggambarkan impian menjadi tindakan, tapi mungkin akulah yang terpandai menyembunyikan impian dari tindakan!

Kini aku hanya terhimpit oleh batu lemparan mereka, tanpa bisa aku berkata sedikitpun tentang impian itu. Diam…

Advertisements

5 cm

Posted: May 18, 2008 in book
Tags: , , ,

5 cm

Judul : 5 cm

Penulis : Donny Dhirgantono

Penerbit : PT. Grasindo

Tahun Terbit : Mei 2005

Tebal : x + 381 halaman

Entah apa maksud dari sampul buku ini yang hitam, dengan hanya sedikit putih yang tergores, “5 cm” juga terukir nama “Donny Dhirgantono” di bawahnya. “Don’t judge the book with the cover!”, itulah kalimat yan tepat menggambarkan isi buku ini dibalik kesederhanaan covernya.

Power Rangger”, begitu mereka pantas disebut. Lima orang insan manusia yang saling memiliki ikatan batin yakni : Arial, Riani, Zafran, Ian, dan sang leader Genta. Mereka memiliki keunikan masing-masing hingga mereka menganggap perbedaan sebagai kekayaan mereka. Genta yang berjiwa pemimpin, Ian yang berbadan bengkak dan senang menghibur, Zafran sang penyair, Riani yang memiliki karisma tinggi, dan Arial yang berbadan atletis sang penenang.

Kegemaran mereka berlima adalah mengeksekusi hal-hal yang tidak mungkin dan mencoba segala hal, mulai dari cafe paling terkenal di Jakarta, sampai nonton layar tancap. Semuanya penggemar film, dari film Hollywood sampai film yang enggak berkelas –kecuali film India karena mereka punya prinsip bahwa semua persoalan di dunia atau masalah pasti ada jalan keluarnya, tapi bukan dalam bentuk joget.

Suatu saat, karena terdorong oleh rasa bosan di antara satu dan yang lain, mereka memutuskan untuk tidak saling berkominikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Selama tiga bulan berpisah itulah telah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya.

Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang penuh dengan keyakinan, mimpi, cita-cita, dan cinta. Sebuah perjalanan yang telah mengubah mereka menjadi manusia seutuhnya, bukan Cuma seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama.

Novel ini mengemas semangat nasionalisme dan patriotisme yang disampaikan menarik dengan bahasa yang mudah dimengerti (cocok untuk anak muda). Semangat pun bisa mudah terbakar ketika menyelami buku ini. Selain itu, misteri tentang perasaan cinta pun tak lupa menambah manis kisah ini. Hingga “mencintai tidak berarti harus memiliki” ditegaskan dalam kisahnya. Untuk para pembaca yang kurang tertarik pada musik atau tidak mengikuti perkembangan film, agaknya sulit memahami lirik dan potongan plot film tertentu yang ikut menghiasi novel ini.

“Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu… jangan menempel. Biarkan dia menggantung… mengambang… 5 centimeter… di depan kamu… jadi dia ngak akan pernah lepas dari mata kamu…”

ppc tampilan baru (2008)

Penulis                : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit              : Penerbit Republika

Tebal                  : viii + 111 halaman

Tahun Terbit      : 2007

 

Setelah suksenya novel “Ayat-ayat Cinta” dan ditayangkan dalam Film layar lebar dengan judul sama, banyak pembaca yang penasaran pada karya Kang Abik lainnya. Salah satunya adalah “Pudarnya Pesona Cleopatra”. Buku yang membuat motivasi Kang Abik untuk menulis “Ayat-ayat Cinta” ini terdiri dari dua novel mini yaitu, “Pudarnya pesona Cleopatra” dan “Setetes Embun Cinta Niyala”.

Novel mini “Pudarnya Pesona Cleopatra” menceritakan seorang suami yang mendambakan istri yang secantik Cleopatra, walaupun dia sudah memiliki istri yang cantik menurut banyak orang namun tidak menurut dia.

Namanya Raihana, istri soleh dan setia. Istri yang cantik, walau tak bisa melebihi pesona Cleopatra, istri yang sabar dengan sikapnya yang dingin, yang terpaksa menikahi Raihana karena tak kuasa menolak perintah ibunya.

Waktu begitu cepat berganti, akhirnya rasa cinta itu muncul dalam hatinya yang tulus. Namun sayang, ketika rasa itu datang memuncak, kenyataan tak bisa dielakan, dan penyesalanpun ikut mencuat. Raihana telah tiada bersama anak dalam kandungannya!

Novel mini kedua “Setetes Embun Cinta Niyala”, menceritakan kegalauan Niyala antara Ayah dan dirinya. Permintaan ayah untuk menikah bersama Roger, manusia yang dianggapnya serigala, agar hutangnya kepada Pak Haji Cosmas (ayah Roger) lunas. Niyala merasa lebih hina dibandingkan dengan para pelacur. Kedok pernikahan untuk menyerahkan jiwa raganya pada Roger agar hutang ayahnya untuk pengobatan ibu yang telah tiada beberapa belas tahun yang lalu terbayar.

Di hari itu keadaan berubah ketika Faiq, kakak angkatnya menyatakan cinta pada Niyala di depan Umi Faiq, Ayah Niyala dan Herman (kakak kandung Niyala). Bunga pun bermekaran, hasrat cinta tumbuh menghapus kegalauan Niyala. Dan di malam sebelum hari wisudanya sebagai dokter, Niyala dan Faiq menjalin hubungan cinta dengan ridra Allah dan kebahagiaan yang berlipat-lipat.

Buku ini mengemas dua novel dengan ending yang berbeda. Walaupun happy ending di akhir novel ini begitu hebat, namun tetap saja suasana sedih membekas dari novel mini sebelumnya, “Pudarnya pesona Cleopatra”. Alur cerita yang pendek menjadikan cerita ini mudah dipahami dan dinikmati, dalam waktu singkat pembaca dapat merasakan desir angin haru ataupun penyesalan dari novel ini.

Jangan menilai buku dari sampulnya, dan jangan pula menilai wanita hanya dari kecantikannya. Karena sesungguhnya kecantikan batin lebih berharga dari kecantikan lahiriah yang terkadang menipu.

Ketika Cinta Bertasbih

Posted: April 5, 2008 in book
Tags: ,

Ketika Cinta Bertasbih episode 1 dan 2

 Penulis                : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit              : Penerbit Republika

Tebal                   : Episode 1 : 477 halaman

                              Episode 2 : 412 halaman

Tahun Terbit        : 2007

Setelah sukses dengan karya fenomenal “Ayat-ayat Cinta” (2004), Kang Abik – nama akrab Habiburrahman El Shirazy – meluncurkan novel-novel lain yang bernuansa sama, yaitu cinta yang islami. Adalah “Ketika Cinta Bertasbih” karya yang tak kalah fantastis. Novel ini terdiri dari 2 episode, yaitu episode 1 yang bersetting tempat di Mesir dan episode lain dengan setting tempat di Indonesia.

Khairul Azzam namananya, tokoh utama dalam novel “Ketika Cinta Bertasbih” ini adalah seorang mahasiswa Al-Azhar University berkebangsaan Indonesia. Sudah 9 tahun lamanya menetap di bumi para nabi, namun dia belum juga menyelesaikan S1-nya.

Sebenarnya dalam waktu 4 tahun atau 3 tahun sekalipun, Azzam bisa lulus dan pulang ke tanah air. Satu alasan yang melumpuhkan idealismenya adalah karena dia ingin menghidupi keluarganya di Indonesia. Setelah ayahnya meninggal tepat satu tahun dirinya meninggalkan tanah air, Azzam menjadi tulang pungggung keluarga. Dengan keahliannya membuat tempe dan bakso, Azzam kuliah sambil berbisnis (atau berbisnis sambil kuliah). Dia sengaja menunda masa kelulusannya agar izin tinggalnya di Mesir bisa dia manfaatkan demi menghidupi Ibu dan 3 orang adiknya di tanah air.

Adalah Anna Althafunnisa, gadis cerdas yang sedang melanjutkan S2 di Cairo University, pujaan Azzam. Dia pernah mencoba melamarnya, namun lamaran itu ditolak oleh walinya di mesir karena telah dilamar terlebih dahulu oleh sahabat dekatnya, Furqon. Dia hanya bisa pasrah kepada Allah. Dia sadar akan dirinya yang belum juga lulus S1, dibanding temannya Furqon yang sekarang tengah menyelesaikan S2.

Setelah sembilan tahun di Mesir, Azzam pulang ke Indonesia dengan menyandang gelar Lc. di belakang namanya. Ibu Nafisah,ibunda Azzam.  Ayatul Husna, asisten dosen psikologi di UNS yang mengisi rubrik psikologi remaja di Radio JPMI Solo juga penulis berprestasi. Lia Humaira, jebolan D3 PGSD yang sekarang mengajar di SDIT All-Kautsar juga mahasiswa S1 STAIN Surakarta. Serta Sarah kecil yang sekarang sekolah di Pesantren Al-Qur’an. Mereka bahagia menyambut kedatangan kakaknya, kakak yang telah membesarkan mereka hingga perpendidikan tinggi, mengorbankan studi demi Ibu dan adik-adiknya.

Jodoh memang ditangan Allah. Itulah salah satu mutiara hikmah yang dapat diambil dari novel ini. Apa yang kita pandang benar, belum tentu Allah berkata sama. Manusia hanya bisa merencanakan dan berikhtiar sekuat tenaga, namun Allah-lah yang menentukan semuanya. Anna Althafunnisa boleh jadi dilamar dan menikah dengan Furqon, namun Azzam lah yang terbaik untuk Anna.

Novel yang sarat akan hikmah. Hikmah tentang pencarian jodoh dan ikhtiar, juga hikmah dalam berbisnis yang Rasulullah contohkan dalam riwayatnya. Berbeda dengan novel adikarya “Ayat-ayat Cinta”, dalam novel ini Kang Abik memakai sudut pandang sebagai orang di luar cerita, membuat alur semakin panjang. Ada kalanya bosan, namun bosan itu hilang setelah emosi pembaca dipermainkan. Belum puas dengan rasa bangga dan haru, rasa sedih datang memaksa pembaca menghapus tetesan air mata yang tak sadar keluar. Setelah membaca novel ini, pembaca akan berkata lirih dalam hati, “Ya Allah pertemukanlah aku dengan jodoh pilihan-Mu!”.

The Result

Posted: March 24, 2008 in cerita pendek, diary
Tags: , , ,

24 Maret 2008

“Nan bangun!”, kata Papah dengan rendah.

‘Nan’ adalah nama kecil gw di rumah, kepanjangan klo dibilang ‘luqman’.

“Hmmmm!”, gw ngigo.

Gw ambil hape di samping gw.

“Baru jam 3.30!”.

Gw bangun dari tempat tidur, lalu ngerubah posisi jadi duduk dan itu sambil tidur, hehehe.

“Nan bangun!”, nada si Papah jadi makin keras.

“Iya, iya!”, gw jawab setengah sadar setelah itu gw ganti posisi jadi nungging. Jam sgini emang enaknya mimpi indah.

“Bangun!!!”

Ngedenger suara si Papah yang makin kenceng, gw langsung bediri and keluar kamar. Gw liat si Papah ngelanjutin solatnya di ruang tengah.

“Subhanallah!”, lirih gw dalam hati.

Tiap malem ini lah kerja si Papah. Rasanya jarang ninggalin solat tahajud. Dan hati gw terpanggil untuk ikut apa yang Papah lakuin. Saat itu juga gw beranjak ke lantai bawah bwt ambil air wudhu.

***

Selese sarapan gw langsung ambil sepatu ke garasi.

“Tadi Mamah mimpi aneh, semoga pertanda baik!”, celetuk Mamah dari kamar.

Gw yang ngedenger itu ngucap hamdalah dalam hati. Gw ga ngerti apa maksudnya “aneh” versi Mamah, but semoga aja itu pertanda baik.

“Anan, kumaha yakin teu ka Unisba teh1?” sambung Mamah.

“Hmmm, do’akeun we mah2!”, timbal gw bingung.

Ucapan si Mamah tadi ngingetin gw sama tes yang minggu lalu gw lakuin, and  sekarang pengumumannya. Gw berharap gw bisa lolos dan memang hati gw ngerasa yakin klo gw lolos. Moga feeling gw kali ini ga salah!

Selese nerima duit bekel dari si Mamah gw langsung cau berangkat ke skul.

“Assalamualaikum!”.

“Wa’alaikumsalam!”.

***

Pelajaran demi pelajaran gw laluin. Ga seperti biasanya, gw bener2 konsen sama pelajaran yang dibawain guru. Sambil konsentrasi, sesekali gw nyuri perhatian ke jam dinding.

“Jam 9!”, ucap gw.

Beberapa menit kemudian…

“Jam 9.30!”, ucap gw lagi.

Dan beberapa detik kemudian.

“Tenenetetenenenenet …!”, jangan aneh guys, itu suara bel sekolah and artinya sekarang break dulu.

“Bil minta koin!”, pinta gw sama Nabila.

“Bentar……..nieh…semoga hasilnya memuaskan ya!”

“Heuheu, thanks Bil!”.

Tanpa dikasih tau, Nabila dah bisa nebak klo gw mau nelpon ke UNISBA tentang hasil yang gw dapet.

Nyampe di telepon koin sekolah, gw masukin koin 200 perak.

“Tut…tut…tut…”.

“Assalamualaikum, dengan Universitas Is….!” operator basa basi.

Langsung gw potong, “Waalaikumsalam, mau menanyakan hasil seleksi kemarin Pak!”

Gw pasang suara bapa-bapa, biar lebih berkesan, heuheu! Dalam hati gw deg-degan banget guys, ampe tangan gw dingin.

“Maaf Pak, mungkin sekitar 2 jam lagi Bapak bisa telepon kemari atau lihat di web site kami. Datanya sedang kami olah!”, balas operator dengan ramah.

“Oooo, begitu ya pa! Termasuk Fakultas Kedokteran?”, heran sekaligus penasaran gw.

“Iya Pak!”.

“Ya udah dech, thank yu ya Pa! Wasalamualaikum!”, gw sedikit ngerubah omongan gw.

“Wa’alaikum salam Dek, eh Pa…!”.

Saat itu deg-degan gw reda, se’enggaknya bwat saat ini!

***

Sekitar 3 jam kemudian, nomor yang ga dikenal nelepon gw. Gw ga ngehiraukan panggilan itu. Gw pandangin hape gw and gw pikir ulang, “Gimana kalo ini penting!”. Biasanya klo orang jail ga selama ini nunggu panggilannya diterima setelah itu di tutup, alias cuma Miss Call. But nomor yang ga dikenal ini terbilang lama nunggu panggilannya diterima.

Gw pijit tombol hijau, “Nan, gimana dah tau hasilnya!?”.

Setau gw yang manggil gw dengan sebutan ‘nan’ cuma sodara and beberapa sobat gw aja.

“Siiiapa ini?”, heran gw.

“Iman!”

“Oh Iman, gmana man hasil tes nya? Keterima ga?”

Gw sama Iman barengan ikut tes masuk Kedokteran UNISBA minggu lalu.

“Eh, orang nanya ko bales nanya!”

“Heuheu, maap! Luqman belum tau euy!”

“Owh, Iman ga lulus euy! No peserta luqman brapa, iman cariin!”

“Haah ga lulus!! No peserta luqman 1080243.!”, bales gw. Gw pikir Iman aja ga lulus apalagi gw! Gw jadi deg-degan yeuh.

Dan beberapa detik kemudian.

“Hmmm, LULUS nan!!!!!!!!!!!!”, geretak Iman.

“Waaaa, LULUS bener man, bcanda ya!???!!?!?”, kaget gw ini disambut sama tepuk tangan temen2 yang ngedenger teriakan gw ini.

“Beneran Nan L – U – L – U –S. LULUS! Selamet ya Nan! Semoga sekses! Assalamualaikum!”

“Thanks  Man, Wa’alaikum salam!”, dibalik seneng gw, gw bisa ngerasain kecewanya Iman. Ya, ini adalah hidup. Ada yang menang dan ada yang kalah, yang paling penting setelah qta ngerasa cukup ber-ikhtiar, serahkan semuanya sama Allah. Biar Dia yang menentukan.

Setelah percakapan di telepon tadi, temen2 jadi ribut and ngasih selamet ke Gw. Untuk yang sekian kalinya gw ngerasa bahagia banget ada di tengah-tengah mereka. And setelah ini gw bakalan sms Mamah Papah dulu trus sms temen2 gw yang dah suport gw dari jauh.

Ini memotivasi gw biar terus giat belajar untuk ngewujudin cita-cita dan harapan gw. Target selanjutnya adalah LULUS UN, LULUS TES EJU Jepang dan LULUS SPMB FK UNPAD. Semoga Allah bersama gw.

“Ya Allah jika ini memang terbaik bagiku, berilah kemudahan untukku dalam menempuhnya! Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Berkehendak!” 

1 Gimana yakin tidak ke UNISBA?

2Do’akan sajah Mah!

Menata Masa Depan

Posted: March 20, 2008 in diary
Tags: ,

Kamis, 20 Maret 2008

Setelah apa yang terjadi kemaren, tentang praUAN, meliburkan diri dari sekolah, privat, dan tentang Ujian Saringan Masuk UNISBA gw semakin mantap ngeliat masa depan.

Banyak hal yang harus gw atur untuk mencapai apa yang gw inginkan. Dan inilah beberapa target gw ke depan,

1.      Lulus Ujian Aakhir Nasional 2008 dengan nilai yang memuaskan,

2.      Lulus SPMB 2008 dan masuk Fakultas Kedokteran UNPAD atu UGM,

3.      Lulus EJU 2008, Beasiswa Study di Jepang.

Beberapa hal harus gw persiapkan dari mulai mental, spiritual, pengetahuan and ga lupa materi. Ini adalah beberapa langkah kongkret yang bakalan gw lakuin untuk mencapai target tadi:

1.      Bimbel privat untuk Ujian Nasional.

2.      Bimbel Super Intensif untuk SPMB 2008,

3.      Les Bahasa Jepang,

4.      Les TOEFL.

Itulah beberapa agenda dan target gw untuk 4 bulan ke depan yang bakalan sangat mempengaruhi langkah hidup gw selanjutnya sampai berpuluh-puluh tahun ke depan.

“Semoga Allah selalu menyertai setiap langkah hambanya yang lemah ini. Amin!”

Rabu, 19 Maret 2008

Pagi ini terasa beda bagi gw. Ini adalah hari pertama gw masuk skul setelah gw meliburkan diri sejak hari kamis (14/03) dan ujian masuk Unisba (17-18/03). Dalam hati gw kangen banget sama anak2 kelas, kangen banget sama suasana di kelas yang…. wah, rame lah!

Raut wajah gw ga bisa nyembunyiin rasa seneng karena bakalan masuk lagi dalam suasana yang penuh persaudaraan dan kekompakan. Kali ini gw datang lebih pagi dari biasanya (saking semangatnya nieh), baru ada sekitar 6 orang di kelas, termasuk Dani –temen sebangku.

“Wah, kamana wae yeuh? Gmana tes nya man? Hese teu?”, berendel Dani.

Sambil tersenyum gw jawab, “Heuheu, Alhamdulillah…….HESE!?#”.

Pertanyaan seperti itu berulangkali dilontarkan temen2 gw. Dalam hati gw bersyukur banget punya temen yang care sama gw.

“Man, lomba film qta menang lho, juara satu, mading juga, and satu lagi Futsal!”, Nabila nyerocos.

Sebenernya gw dah tau berita itu sejak hari senin, tapi ngeliat cara Nabila ngasih tw gw,, gw g ingin bwt dia kecewa sama jawaban yang terkesan dingin.

“Waaaa, syukur dech! Tiga juara sekaligus! Hebat lah!”, gw bales.

“Ada hadiahnya lho. Tadinya qta ga bakalan buka hadiahnya sebelum kamu sekolah Man, tapi anak2 pada ga sabar alias penasaran banget sama isi hadiahnya. Jadi aja qta buka dech! Qta dapet rejeki banyak Man!”, timbal Nabila.

“Wa segitunya! Asik yeuh, naon tah….?”

“DUIT!! Dari film qta dapet 150rb, mading 50rb. Qta nunggu kepastian dari kamu Man, coz bisa dibilang ini 70 % usaha kamu ampe kita bisa menang, Pa Sutradara!!”

kaos hadiah

Ngedenger kalimat itu, gw langsung berbunga-bunga. Gw ngerasa sangat dihargai sebagai KM. Dan emang peran gw di lomba film ga bisa diremehkan. Gw jadi Sutradaranya lho…(Heuheu…it’s my hobby guys) dan gw yang ngedit videonya ampe nge-burn ke DVD. Tapi gw sama sekali g ngeharepin penghargaan ato apapun dari temen2 gw. Sinematografi adalah hobi gw selain fotografi and desain grafis, so gw ngelakuin ini sambil ngejar hobi gw, itu aja. Tapi…… gw g nyangka temen2 begitu apresiatif nya sama apa yang gw lakuin.

“Eeeee,, mmm!”, gw ampe ga bisa ngomong apa2.

“Ayo Man, duitnya mau diapain, klo waktu itu qta kumpul sech, ank2 maunya ngeliwet dirumah sapaaaa geto? Rame khan…..”.

“Oooo…”, gw masih gugup. “Satuju lah Luqman mah! Gmana klo ngeliwetnya di rumah bu Marmah (wali kelas), sekalian silaturahmi geto. Rame sigana?”, gw ngomong sedikit lancar.

“Hmmmm, bener, bener, nanti dech Bila ato Diana bilang ke si Ibu.”.

It’s surprise for me, bukan karena hadiah ato penghargaan yang telah gw dapet, tapi lebih dari itu gw punya temen2 yang care and ngasih reward moral ke gw.

“Ya Allah, segala puji bagiMu! Jangan Kau lepaskan nikmat ini dariku Ya Allah”, lirih gw dalam hati.