Jangan Terbuai

Posted: May 28, 2008 in diary
Tags: ,

Kemarin adalah hari yang tidak biasanya bagiku. Sekitar pukul 8 pagi aku keluar rumah dengan memakai baju yang sampai sekarang masih menjadi kebanggaan, putih abu-abu! Hari itu aku harus pergi ke sekolah untuk membeli formulir SNM-PTN. Seperti biasanya, sebelum pergi aku mampir dulu ke toko, selain karena motor ada di sana juga karena Selasa ini aku harus memastikan tulisanku di HU Pikiran Rakyat (PR) naik cetak! Tapi kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan, gagal! Ya, mungkin memang sesungguhnya keberhasilan itu akumulasi dari sejumlah kegagalan!

Ini adalah kunjungan pertamaku ke sekolah setelah lebih dari 2 minggu berdiam diri di rumah! Awalnya 2 minggu ini menjadi saat yang menyenangkan karena aku baru saja menyelesaikan beberapa ujian akhir, diantaranya Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, dan Ujian Praktek.  Wajar bila saat-saat liburan sangat aku nantikan. Tapi di akhir 2 minggu ini, aku merasakan penurunan semangat, kebosanan dan akhirnya kemalasan, walaupun ada pekerjaan yang aku lakukan yaitu membuat artikel atau cerita pendek untuk dikirim ke berbagai redaksi harian umum atau majalah (tapi sampai sekarang, belum ada yang naik cetak, hehehe!). Dan saat ini lah, saat yang tepat untuk melepas kebosanan selama liburan.

Pukul 9 lebih aku sampai di sekolah, keadaannya masih sama seerti 2 minggu yang lalu (ya iya kale, hehe). Ruang-ruang kelas yang penuh dengan manusia pembelajar, ruang perpustakaan yang penuh dengan gudang ilmu, kantin yang menjadi tempat melepas penat, lapangan basket yang gersang, karidor-koridor yang sejuk dengan dedaunan disampingnya, Ah, rindu sekali aku dengan susana seperti ini. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan masa-masa terindah ini. Mungkin memang selalu ada resiko saat kita bergerak maju!

Tidak banyak CAU crew (anak kelas Ipa 2) yang datang ke sekolah. Deden, Mimie, Sandi, Zaka, Windy, Yka, Bila, Jojo, Siti, Siska, Safaah, ya… hanya itu…! Sambil menunggu yang lain datang, kami berbincang tentang masa depan! Deden, Zaka, Mimi akan menghadapi USM ITB sebentar lagi (5 hari lagi), mereka bercerita tentang keluh kesah mereka. Mereka bercerita tentang usaha-usaha mereka! Bagi Zaka, USM kali ini adalah yang kedua kali setelah sebelumnya dia gagal. Bisa kurasakan betapa tingginya keinginan mereka untuk cita-citanya itu. Belajar siang malam, pulang pergi les, dan lain sebagainya cukup untuk meyakinkan pernyataanku ini! Begitu juga yang lainnya, Siti atau Yka misalnya yang berkeluh kesah tentang usaha nya masuk ke PTN favorit mereka. Yka yang beberapa minggu lagi akan menghadapi SMUP (Seleksi Masuk Universitas Padjajaran) begitu bersemangat dengan cita-citanya itu, menjadi Bidan. Cici atai Siti yang menjadikan Pendidikan Matematika UPI tujuan utama untuk masa depannya sepertinya begitu lelah dengan usahanya dan pasrah pada Allah. Ya Allah terimakasih engkau memberiku teman-teman yang mau bekerja keras!

Aku Benci ITB

ITB (institut Teknologi Bandung) adalah PTN favorit di Indonesia, Presiden Soekarno, B.J. Habiebie, Hatta Radjasa adalah alumnusnya. Aku pun menjadikan Teknik Arsitektur ITB sebagai pilihan kedua setelah Pendidikan Dokter Unpad pada SNM-PTN nanti. Tapi begitu kecewanya aku saat guru BK meberitahuku bahwa ITB tidak memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa yang menempatkan ITB pada second option, bahkan dia bercerita kebiasaan itu sudah sejak dulu mereka lakukan.

Aku pikir ini sungguh keterlaluan! Ada beberapa jalur untuk masuk ITB, diantaranya USM dan SNM-PTN. Tidak seperti Unpad, calon mahasiswa yang mendaftar ke ITB tidak dibolehkan berspekulasi, artinya hanya boleh memilih salah satu jalur, USM (mandiri) dengan biaya sangat besar (>45 juta, SBM >65 juta) atau SNM-PTN yang murah. Tentu saja kita kan memilih yang murah saja –SNM PTN– tapi kuota untuk itu adalah kurang dari 15 % saja, sungguh sangat kecil, maka dari itu banyak calon mahasiswa yang tidak mempedulikan angka puluhan juta rupiah untuk masuk PTN ini.

Aku pikir, mentang-mentang sekolah favorit yang dibutuhkan mahasiswa (tidak seperti PT swasta pada umumnya yang membutuhkan mahasiswa), ITB begitu sombong sehingga tidak memperbolehkan para calon mahasiswa menempatkannya pada pilihan kedua di SNM PTN. Akhirnya aku berfikir ulang untuk Teknik Arsitektur ini, mungkin sudah takdir untukku memfokuskan diri pada Kedokteran.

Aku pikir yang mengalami hal semacam ini tidak hanya diriku, masih banyak calon mahasiswa lain yang sepertinya kecewa terhadap kebijakan ini. Mereka mungkin akan mengurungkan niatnya pada fakultas teknik tertentu. Sungguh aku benci kesombongan ITB! Apa memang benar di Indonesia, pendidikan hanya untuk orang ber-duit saja? Apa aku haru mengulang kata-kata Taufiq Ismail, “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”!

Lingkungan Kompetisi

Ya Allah terimakasih ya Allah, engkau telah menyadarkanku akan kelengahanku sehingga aku malas dan terbuai dengan kesenangan sesaat (liburan) tanpa aku sadar bahwa urusan lain menantiku dengan penuh harap. Ya Allah terimakasih karena engkau telah menempatkanku pada lingkungan yang mau bekerja keras, sehingga menyadarkanku akan kompetisi yang terjadi. Kini semangatku kembali tumbuh, akan ku manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk kembali merajut masa depanku!

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia) maka bersungguh-sungguhlah(dalam beribadah)!”

(QS Al Insirah :  6 – 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s