Dilema Hari Kebangkitan Nasional

Posted: May 21, 2008 in social
Tags:

Masih ingatkah Anda momen besar apa yang baru saja diperingati Bangsa Indonesia? Ya benar, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)! Momen ini semakin besar karena tepat pada tahun ini kebangkitan nasional berusia 100 tahun. Harkitnas harus kita maknai sebagai bangkitnya persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kebangkitan nasional adalah dampak langsung dari edukasi, salah satu kebijakan dalam politik balas budi (politik etis) Belanda kepada Bangsa Indonesia pada 1901. Dan pada 20 Mei 1908, kaum terpelajar yang diprakarsai oleh Dr. Soetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan rekan-rekannya membentuk organisasi yang diklaim organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Boedi Oetomo. Organisasi tersebut dinilai memulai babak baru perjuangan bangsa setelah gagal dengan usaha fisik. Itulah sebabnya, tanggal berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei) dijadikan Hari Kebangkitan Nasional.

Namun demikian, ada pendapat yang cukup menghebohkan dari Harkitnas ini. Anda pasti kaget apabila 20 Mei dinilai tidak pantas diperingati sebagai Harkitnas! Itulah pendapat yang dilontarkan sebagian orang.

KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam, dalam sebuah bukunya berjudul Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa,  menyebutkan, “BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya. ”. Hal sejenis dikatakan oleh Prof. RE. Elson dalam buku terbarunya, The Idea of Indonesia ,”Boedi Oetomo adalah gerakan budaya, dan anggotanya hanya dari Jawa, maka organisasi tersebut belum menjadi gerakan nasionalis Indonesia.”. Dari sinilah pendapat bahwa Boedi Oetomo mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anasionalis terlontar.

Baik KH. Firdaus AN maupun Prof. RE. Elson setuju apabila Syarikat Islam (awalnya bernama Syarikat Dagang Islam, SDI) dijadikan organisasi kebangsaan pertama di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 16 Oktober 1905 atau tiga tahun sebelum Boedi Oetomo. Organisasi ini pula dinilai bersifat nasional untuk seluruh Bangsa Indonesia dan non kooperatif terhadap Belanda, sehingga banyak anggotanya yang didesak masuk penjara, diasingkan, bahkan ditembak mati.

Terlepas dari pendapat tadi, Profesor Adrian Vickers, Pengajar Sejarah Indonesia di University of Sydney, berpendapat bahwa Boedi Oetomo boleh dikatakan organisasi pertama yang mengandung bibit-bibit politik modern dalam konteks di mana ada dasar pembentukan dalam kungkungan Hindia Belanda. Bahkan sudah ada pengakuan bahwa unsur-unsur politik yang radikal sudah ada dalam Boedi Oetomo. Tidak mungkin ada organisasi lain tanpa adanya Boedi Oetomo terlebih dulu.

Nah lho, bagaimana pendapat Anda sekarang? Pasti bingung! Bagaimanapun perdebatan yang terjadi jangan sampai menjadi dilema yang melembekkan semangat kita sebagai kaum muda terpelajar untuk memajukan bangsa dan negara. Sepertinya kita perlu sedikit mengutip perkataan Dedy Mizwar, “…Bangkit berarti mencuri! Mencuri perhatian dunia dengan prestasi!…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s