Jam

Posted: January 19, 2008 in cerita pendek
Tags:

Hari ini sepertinya tidak lebih baik dari hari kemarin. Jam tanganku menunjukan pukul 6.28, artinya 17 menit lagi aku harus sudah sampai sekolah. Sambil membenarkan sweater, aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, tas gendong yang kujinjing terobang-ambing entah kemana. Aku langsung menyantap mie goreng yang ku kira telah Ayah sediakan untukku, maklum Ibu sedang dinas ke luar kota.

Ahgh, jangan di makan, itu punyaku!”, teriak adikku yang baru saja keluar dari dapur dengan tangan yang basah.

“Kaka bikin sendiri saja sana, jangan ganggu punyaku!”, tambahnya lagi.

“Heuheugh maafgh, terghlanjurgh!”, jawabku sambil terus mengunyah mie goreng ini.

“Ah, awas!”, dia merebut mangkok yang kubawa lari dan keadaanpun tidak bertambah baik.

Inilah kejadian yang hampir setiap pagi terjadi dirumah. Aku dan adik perempuanku yang baru kelas 2 SMP ini selalu berkelahi karena sesuatu hal yang sepele.

“Pah, berangkat!!!”, aku menyalami ayah yang ada di ruang tamu sambil menengadahkan tangan.

“Hmmm, ga pernah lupa ya!”, jawab ayah sembari mengeluarkan dompet, tampaknya ayah tau maksudku.

Aku tidak pernah lupa akan uang saku dalam situasi apapun, karena inilah nyawaku. Tanpa ini, aku akan menahan hasrat akan terpenuhinya tubuh ini dengan karbohidrat dalam perannya menghasilkan ATP (energi) pada metabolisme tubuh.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam!”

Aku tampak tergesa-gesa, menutup pintu rumah, membuka pagar, berlari dan menghela napas terpotong-potong. Kususuri jalan setapak sawah yang berada tepat di belakang rumahku. Kurasakan hembusan angin sepoi-sepoi membelai dan menghapus keresahan ini. Oksigen yang masuk ke hidungku dibawa oleh hemoglobin yang termuat dalam sel eritrosit, mengalir halus dengan deras, memukul-mukul jantung dan mengalir deras lewat nadi. Menghubungkan neuron sensorik, konektor dan motorik serta memfungsikan otak. Logika pun mulai digunakan, perasaan mulai menciut. Memang benar terkadang logika membawa kita terbebas dari suasana hati yang bergemuruh.

“Caheum jang!”, celetuk supir angkot yang mobilnya berhenti di depanku. Ku balas dia dengan lambaian tangan dan sedikit gelengan kepala.

Memang benar angkot yang semestinya aku naiki adalah jurusan Cicaheum, tapi berbagai pertimbangan aku lontarkan pada angkot itu –walupun dia tidak menjawab. Ku lihat bangku angkot itu baru terisi satu orang saja. Aku pun dapat menghitung waktu yang terpakai sampai ke tujuan jika kumasukan dalam rumus jarak dibagi kecepatan yang diterangkan oleh Pak Endang minggu lalu. Angkot ini tidak masuk dalam kriteria “angkot edan”, julukan yang kuberikan bagi angkot ala formula 1 dalam urusan menginjak pedal gas.

Dengan satu gerakan telunjuk saja, aku bisa hentikan angkot yang telah kubidik dari kejauhan. Aku duduk dengan seperempat kursi di dekat pintu. Terasa tak nyaman di bokongku tapi saat ini aku sedang mencari “angkot edan” yang bisa menyelamatkanku dari hapalan 20 ayat surat Al-Baqarah beserta arti harfiahnya yang diberikan Pak Andang karena terlambat masuk sekolah. Sesekali aku melirik jam tangan untuk memastikan waktu. Aku tidak sanggup menatap jam ini jelas-jelas karena itu berarti menatap Pak Andang yang tengah berjaga dengan tangan terlipat di depan dada.

“Kiri!”, ucapku bak mantra ajaib yang mengakhiri derita perjalanan sekaligus menghentikan angkot di depan sekolahku tercinta –SMAN 24 Bandung.

Aku turun dan memberikan dua lembar “kertas” kepada supir angkot.

Kulihat sekolah ini sudah sepi dari hiruk pikuk siswa memasuki gerbang, hanya tiga siswa yang kulihat nasibnya sama denganku. Feel-ku sudah tidak enak. Polisi yang berjaga untuk menyebrangkan anak sekolah pun sudah tidak ada. Ku lirik kembali jam tanganku, jarum panjangnya menunjukan angka 12. “Ahgh!!!!”, ucapku dalam hati sambil membayangkan apa yang akan terjadi.

Dengan tingkah yang dingin, aku mulai memasuki gerbang. Ku perhatikan keadaan sekitar, sambil berdo’a agar Pak Andang tidak keluar dari sarangnya.

“Ah!”, ucapku dalam hati. Lagi-lagi do’aku tidak terkabul, mungkin karena aku lupa shalat subuh. Pak Andang keluar dari ruang lobi dan menatapku.

Beurang keneh, euy!”, celetuk Pak Andang sambil tersenyum. Sindiran ini kuladeni dengan muka menunduk dan langkah yang semakin pelan. Aku sudah siap dengan semua konsekuensinya.

 Ternyata Allah masih sayang padaku, Pak Andang masuk kembali ke lobi hendak mengambil sesuatu yang tertinggal. Momen ini tidak ku sia-siakan, seketika itu aku berlari menuju kelasku.

Aku mulai heran dengan hari ini. Mengapa tadi Pak Andang tidak memanggilku dan membawaku ke “ruang eksekusi”. Tetapi keherananku itu terhenti saat akau berhadapan dengan pintu kelas yang tertutup rapat, ketegangan pun mulai muncul.  “Assalamualikum.”, ucapku sambil membuka perlahan pintu itu. Aku heran, ternyata kelas masih kosong. Aku masuk dan menyimpan tas gendong di bangku. Keherananku pun kembali menjadi. Ku pandangi jam tanganku, jarum panjangnya menunjuk ke arah angka satu, tak berbeda dengan jam dinding kelas. Kuperhatkan kembali jam tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka tujuh, seketika itu aku melihat jam dinding, dan aku terkejut karena jarum pendeknya menunjuk ke angka enam.

 Ah, aku mulai sadar akan semua ini. Aku lupa, kemarin aku telah menambahkan satu jam lebih cepat pada jam tanganku agar besok (hari ini) aku dapat datang lebih awal, dan itu telah menjadi kenyataan. Aku adalah orang pertama yang menginjakan kaki di kelas pada hari ini. Ternyata cara bodoh seperti ini ampuh juga dalam melawan kebiasaanku yang tak kalah bodohnya.

Comments
  1. Arif Budiman says:

    Hwahahah… Lucu…😆
    Boleh kuambil sebagai bahan cerpenku tidak?

  2. everythingisposible says:

    boleh banget…
    thanks…

  3. rizal says:

    hehe..
    ntu teh bneran pa ngarang?
    lucu jg..hehe..

  4. everythingisposible says:

    sebenernya ini animasi doank
    but,
    diilhami pengalaman pribadi
    heuehu
    __________

  5. eisenwolf says:

    kang,,,,lucu banget,,,koq bisa seh???
    kebiasaan pake’ motor seh jadinya sekalinya telat keliberan,,

    hahahaha

    regrads,
    eisenwolf

    *nb saya juga nak 24 jadi g apa2 kan saya panggil kang,,,

  6. eisenwolf says:

    hmmm,,,,hehe yo,,,sama-sama…
    akang juga bagus banget blognya koq bisa seh????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s