Adalah kebanggaan, pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa kita telah memproklamasikan kemerdekaannya. Sebuah akibat dari pengorbanan yang luar biasa atas perjuangan bangsa merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan juga sebuah sebab hingga sampai saat ini bangsa kita terus berjuang mengisi kemerdekaan. Enam puluh tiga tahun sudah kita mengisi kemerdekaan, namun apa benar kita sudah merdeka? Ketergantungan kita pada kekuatan asing sesungguhnya menandakan ketidak mandirian kita dan masih berlangsungnya penjajahan di negeri tercinta ini.

Adakah perbedaan keadaan bangsa kita sebelum dan sesudah proklamasi? Pinjaman dari IMF dan World Bank sesungguhnya telah menjerumuskan kita pada lilitan hutang yang tiada henti, sekaligus menambah malnutrisi serta memperluas kesengsaraan. Harga minyak yang melonjak tajam membuat antrian panjang “manusia berjerigen” di berbagai tempat. Angka kemiskinan masih bertengger di papan atas klasemen permasalahan bangsa. Lalu, adakah perbedaan? Tidak lebih dari perbedaan format belaka, yang asalnya penjajahan secara fisik dan militer menjadi penjajahan kontrol jarak jauh secara ekonomi.

Inilah pengulangan sejarah bagi bangsa yang gagal belajar darinya. Sampai tahun 2036, Exxon Mobil akan mengendalikan pengoprasian Blok Cepu. Freeport akan terus menguras kekayaan alam Indonesia di Papua hingga 2041. Penjajahan akan sumber daya alam yang luar biasa, lebih dari apa yang dilakukan VOC! Dalam sebuah bukunya Amien Rais mengatakan bahwa muatan laut Indonesia sebesar 46,8% dikuasai oleh kapal asing, lebih dari 50% perbankan nasional dikuasai asing, telekomunikasi dikendalikan asing (Indosat dimiliki Temasek Singapura, 35% sahan Telkom, dan 98% saham XL juga milik asing), tak lupa Satelit Palapa (pulau milik Indonesia di angkasa) sudah jatuh ke tangan Temasek Singapura. Inilah bentuk penjajahan masa kini yang terprogram untuk menyengsarakan rakyat.

Semua ini tidak akan terjadi bila kita mempunyai kekuatan hukum untuk menjadi bangsa yang “merdeka”. Namun tidak demikian, seperti yang dikatakan oleh Revrisond Baswir bahwa banyak Undang-undang di negara kita merupakan pesanan kartel neokolonial. Undang-undang No. 25/2007 tentang penanaman modal, Peraturan Pemerintah No.76/2007, serta Peraturan Pemerintah No. 77/2007 yang menyebutkan batas kepemilikan modal asing mencapai 95%, seolah mempromosikan “Indonesia for Sale” di mata dunia. Dan lagi-lagi Amien Rais menyebutkan bahwa pemerintah telah membuatkan jalan tol nan mulus bagi korporasi-korporasi asing untuk menguasai perekonomian Indonesia.

Indonesia masih belum bisa mandiri mengurus keperluannya, kekuatan asing begitu kental dalam menentukan nasib bangsa, hingga Undang-undang pun bisa didikte oleh kehendak asing. Inikah Indonesia yang merdeka? Tidak! Ini adalah Indonesia yang masih terjajah bukan karena kekuatan fisik dan militer, namun oleh kontrol yang menjadikan Indonesia kehilangan kedaulatannya secara ekonomi, hukum, sosial, politik. Terasalah apa yang pernah dikatakan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

**Kado untuk Hari Ulang Tahun Indonesia yang ke-63**

Bulan Ketiga

Posted: June 21, 2008 in cerita pendek
Tags:

Entah matahari yang terlambat datang, atau aku yang terlalu bersemangat pergi sekolah? Walaupun semalaman aku begadang membaca bolak-balik tentang Teori Relativitas Einstein, niatku untuk bertemu Khansa enggak juga menipis. Masih tebal, bahkan lebih tebal dari 3 bulan yang lalu saat aku ‘menembak’ cewe incaran para cowo di sekolah ini. Wajahnya yang cantik sebanding dengan tingkahnya yang membuat kaum Adam serasa dikirim ke langit ketujuh, selalu terbayang dalam pikiranku.

Harus ku akui selain karena ada ulangan Fisika, tepat hari ini adalah hari bersejarah untuk aku dan Khansa yang seakan mengulang manisnya 3 bulan yang lalu. Wajar kalau aku menarik kencang gas motorku ini untuk sampai di sekolah dan bertemu Khansa. Heuheu!

Tepat pukul enam lebih sembilan menit, motor bebek hijau (warna favorit Khansa) sudah ku parkirkan di halaman sekolah. Motor ini adalah yang paling keren diantara motor yang diparkir. Se’engganya sampai motor lain menuhin halaman parkir. Terlebih lagi kalau motor Ninja Merah milik temanku Joy parkir tepat disamping motorku. Kabanting pisan!

Ya! Aku adalah siswa pertama yang menginjakkan kaki di sekolah, tapi enggak kalau dibandingkan dengan Pak Dandang. Guru yang punya keahlian khusus mencari siswa yang melanggar peraturan ini sudah stand by di depan gerbang sekolah. Walaupun ada siswa yang datang subuh (supaya gak kena razia), tapi sixth sense guru nyebelin ini selalu berbuah tangkapan segar.

Kalau aku sih enjoy aja! Setauku, aku tidak melanggar satu peraturan pun sekarang. Sepatu hitam, tali dan kaos kakinya putih, celanaku gak cutbray atapun rock ‘n roll, nama, lokasi dan badge sekolah juga terpasang, rambutku juga rapih en stylist. Aku melewati Pak Dandang dengan sedikit senyum dan anggukkan kepala.

“Assalamualikum, Pak! Stand by terus nieh!”

“Wa’alaikumsalam! Coba jaketnya buka!”, Pak Dandang sambil penunjukan telunjuk kanannya padaku.

Aku agak kaget dan menghentikan langkah pede-ku.

“O..o..ooo, iya Pak, lupa!”

Setelah kubuka, Pak Dandang memeriksa kelengkapan seragamku. Aku sih santai saja, toh gak ada yang kurang.

“Ehem!”, suara tenggorokannya yang kasar menandakan ada sesuatu yang tidak dia suka.

“Keee…ke…keenapa Pak? Lengkap kan?!”

“Memang lengkap! Tapi tolong gelangnya copot dan berikan pada bapak! Cepat..!”, liriknya pada karet hijau-biru yang mengunci pergelangan tangan kiriku.

Ahhh! Celaka! Aku lupa memakai gelang pemberian Khansa ini di saat yang ga tepat. Gelang sederhana tapi bermakna ini punya arti yang penting untuk aku dan Khansa. Gelang ini adalah pemberian Mamihnya Khansa yang telah tiada. Dan aku satu-satunya orang yang dipercayakan Khansa untuk menyimpan gelang karet ini selain dia (karena gelang ini sepasang). Setahuku barang yang sudah “dititipkan” pada Pak Dandang akan hilang atau paling banter kembali dalam keadaan tak utuh. Benar-benar sial!

“Aduh Pak, jangan donk! Mendingan saya aja yang simpen, please pak please….!”

“Tiiiiiidak!!! Cepat buka dan serahkan pada bapak!”

“Ah, Pak! Jangan donk pa, anggep impas aja karena saya siswa yang dateng pertama, ya..ya..ya!”

“Sekali lagi bapak bilang, CEPAT BERIKAN!”

Heueueueh, kesalku dalam hati. Kalu bukan guru, sudah ku tendang ‘burung’-nya, biar tau rasa. Memang inilah kebiasaanku kalau menghadapi orang rese. Dan terbukti manjur. Setelah ditendang, korbanku langsung diam sambil memegang ‘burung’-nya.

“Aduh Pak, please, sekaliiii aja! Gelang ini punya makna yang dalem buat say…..!”

“Tidak ada alasan apapun, yang jelas kamu sedah melanggar peraturan! Kamu tinggal pilih, serahkan ke bapak atau kamu yang pulang tidak mengikuti belajar hari ini dengan keterangan ‘alfa’.”, serobot guru keras kepala ini.

Ah, pilihan yang sulit bagiku! Gak bisa aku bayangkan kalau aku alfa dalam pelajaran fisika Bu Dela, apalagi sekarang ujian ‘Teori Relativitas Einstein’ yang penting bagi nilai raportku. Guru killer yang satu ini juga paling anti terhadap remedial ataupun susulan. Gosip yang beredar nieh, katanya dilihat dari garis keturunan Bu Dela yang nama panjangnya Candela Nura’eni ini empat turunan pelahap fisika, ini bisa dilihat dari namanya. ‘Candela’ berarti satuan dalam intensitas cahaya. Ayahnya bernama Isak Hendro. Nama depan ‘Isak’ diambil dari nama Isaac Newton, ilmuan yang berjasa dalam mengungkap teori dinamika partikel. Kakeknya bernama Ahmad Galiley. ‘Galiley’ diambil dari nama belakang Galileo, yaitu Galileo Galiley. Begitulah seterusnya sampai garis keturunan ketiga diatasnya. Barulah leluhurnya yang keempat yang bernama Supardjo Suryodikusomo. Nama yang cukup keren di era tahun 1800-an. Aneh memang, tapi aku setengah percaya ketika merasakan ketegangan belajar dengan Bu Dela. Hehe.

Ah, itu cuma nostalgila! Kembali aku terfokus pada tubuh besar-pendek alias buntet yang berkumis tebal ini.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya aku mencoba melepaskan gelang karet ini.

“Oke lah Pak..!”, ucapku lemas.

Gelang tinggal setengah perjalanan lagi keluar dari tangan, seperempat…seperdelapan, dan… Ah, wajah cantik Khansa terbesit di pikiranku. Apa jadinya kalau dia tahu gelangnya diambil Pa Dandang. Tidak..tidak!

Gelang tersebut kutarik mundur ke seperempat…setengah….dan tak jadi kukeluarkan. Alasannya cuma satu….KHANSA!

“Engga Pak ah! Mending saya gak usah sekolah aja lah!”, ucapku ragu dengan bayang-bayang Bu Dela.

“Ya sudah! Silakan…. kalau bapak melihat kamu di sekolah, bapak akan panggil orang tua kamu!”, tak ada raut ragu di wajah jelek itu, sambil mempersilakan aku keluar.

Cukup lama aku bernegosiasi dengan Pak Dandang, dan sekarang sudah banyak siswa yang menginjakan kaki di sekolah.

Dengan langkah gontai aku berjalan keluar gerbang sekolah. Aku hanya bisa meratapi masa depan yang blur dengan nilai fisika yang hancur berantakan karena melewatkan ujian terakhir yang jadi penentuan untuk menutupi nilai do,re,mi di ujian sebelumnya. Usahaku begadang belajar Fisika tampaknya sia-sia, tapi….

Setelah melihat Joy, Rei, dan Ferdi memarkir motornya tepat mengapit motor bebek hijau yang pudar ke-keren-annya disandingkan Ninja merah, aku rasa masa depanku tidak terlalu blur. Ide gila muncul dari pikiran jernih ‘Einstein muda’, hehehe!

“Huy, Guys! Morning-morning gini gw punya project bro!”, sapaku dengan akrab.

“Semangat lah! Berapa bagiannya?”, Rei ngeh.

“Asoy euy, lagi butuh tambahan pengasilan nieh!”, Joy gak kalah.

“Emang proyek apa, Bos??!”, si Ferdi gak sabar.

“Kemari guys, kita ngarempug!”, jawabku mendekati mereka.

Begitulah teman-temanku. Mengartikan kata ‘proyek’ dengan uang. Padahal proyek yang satu ini tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan uang.

Kami berempat jongkok sembari berkumpul melingkar di samping barisan motor. Aku ceritakan semuanya tentang Pak Dandang yang rese, gelang karet berharga dan hari spesial yang tepat hari ini. Aku harap mereka ngerti.

“Ah, gak ber-uang! Gak seru!”, joy bilang.

“Iya ah, di kirain proyek apaan!”, tambah Rei.

“Ayolah, guys! Come on! Please…help me!”, rayuku.

“Aduh Friend, gmana ya…”, jawab Rei mencoba berulah padaku.

Aku mulai kesal. Orang rese memang paling aku benci. Dan… tibalah saat jurus mautku dikeluarkan. Ku ambil kuda-kuda.

“Ii..ii..iya..iya, calm down and everything will be ok!”, ucap Rei so inggris. Tampaknya dia sudah hapal kuda-kuda yang kupersiapkan untuk menendang ‘burung’-nya. Untuk cowo mesum seperti dia ‘burung’ adalah segalanya. Hehehe! Aku, Joy dan Ferdi tertawa kecil melihat tingkah Rei.

“Ya udah, ayo kita come on, ah!Hehe!”, Ferdi yang dari tadi diam mulai bersuara.

“Sip guys! You’re my soulmate!”, timpalku. “Berlebihan memang!”, tambahku dalam hati.

Sekarang saatnya menjalankan misi. Mereka bertiga berjalan menghampiri Pak Dandang, dan aku jongkok terdiam di sini sampai saatnya tiba.

Kuperhatikan dari sini, sejauh ini rencana berjalan dengan lancar. Joy berhasil menghasut Pak Dandang kalau si Rei membawa DVD Biru dan Ferdi ikut memanaskan keadaan, sementara bocah masum Rei mencoba menyangkal tuduhan itu. Mereka seolah tak saling kenal. “Hehehe, cocok buat jadi bintang pelem nieh!”, ucapku dalam hati.

“Woy, si Rei bawa DVD bokep!”, Joy berteriak. Kontan teriakan itu mengundang perhatian banyak siswa yang lewat, dan keadaan pun berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk menyelinap masuk ke sekolah.

“Huuuhf, yes!!”, teriakku di dalam sekolah.

Aku berhasil memanfaatkan keadaan. Kuperhatikan tingkah kerumunan cowo yang mengelilingi Pak Dandang. Saat itu aku tertawa puas! Keperhatikan tingkah Rei, Joy dan Ferdi. Ketiganya gokil abis. Beruntung sekali aku memiliki teman seperti mereka. Beberapa saat kemudian, mereka bertiga berhasil keluar dari kerumunan dan masuk ke gerbang sekolah.

“Film Bokep jangan dibawa ke sekolah atuh!!Hehehe”, candaku pada mereka bertiga – terutama Rei.

“Hehehe, berisik ah!”, Rei ikut tertawa.

“Akting loe keren Rei! Hehehe!”, Ferdi bilang.

“Gw juga kale!”, balas Joy.

“Iya,iya, akting kalian keren, Guys! Thanks banget yaph!”, aku menyela.

Dan keadaanpun semakin girang. Kami berempat berkumpul membentuk lingkaran kecil dan menumpukan tangan kanan kami ditengahnya, lalu berteriak “Woy!!!”.

 

***

 

Aku dan ketiga sahabatku langsung meninggalkan kelas setelah bel pulang berbunyi. Pelajaran Fisika telah kulewati dengan lancar. Hampir semua pertanyaan dapat kujawab dengan baik. Masa depan semakin jelas saja! Tak lupa kubagikan jawaban kepada ketiga temanku yang berjasa besar hari ini.

“Guys, itu Khansa!”, ucap Ferdi padaku menunjuk pada cewe yang menghampiri kami.

Tepat sekali kedatangannya. Setelah 2 jam bersama Bu Dela, ketegangan terhapus oleh pesona Khansa. Cleopatra abad 20 itu berlari kecil ke arahku.

“Hei! Pasti abis pelajaran Bu Dela ya?!!”, Khansa memegang kedua tanganku.

Bisa kurasakan betapa irinya tiga orang di belakangku. Mereka hanya bisa menggigit jari, menunggu bidadari seperti Khansa turun dari langit.

“Hehe, tau aja! Untung kamu dateng, jadi ilang dech bete-nya!”, jawabku.

“Ah kmu bisa aja! Gombal banget sech! Hihihi..”, Khansa sambil mencubit perutku.

Memang untuk pasangan yang baru berumur 3 bulan sepertiku, bunga-bunga cinta sedang mekar-mekarnya. Walaupun banyak orang yang bilang, ‘Setelah tiga bulan pertama, bakalan ada masalah besar pertama yang bakalan dihadapin sama setiap pasangan!’, tapi itu gak terlalu aku hiraukan.

“Kita duluan, Bro!”, ucap Joy mewakili Rei dan Ferdi.

“Ok, thanks a lot yaph!”, jawabku.

“Gelang yang kamu pake cantik ya!”, Khansa membuka pembicaraan.

“Ya, kaya kamu!”,

“Tuch kan ngegombal lagi?! Kamu bisa aja.”,

“Sa, kok warnanya hijau-biru sech?!”, tanyaku padanya.

“Hmmm..! Hijau itu warna kesenangan Mamih yang sekarang menurun padakku. Hijau itu indah! Aku seneng ngeliat warna hijau, karena itu bisa ngebuat kita tenang, bahkan waktu kita rindu sama seseorang yang sangat kita cintai!”, Khansa diam sesaat, kedua matanya yang indah mulai berkaca-kaca.

Aku bisa menduga kalau dia teringat pada Mamihnya, dan aku tidak tahan kalau melihat gadis cantik ini menangis.

Tak sempat air matanya keluar, aku menyela, “Kalau biru artinya apa, Yang?”.

Khansa memalingkan pandangannya padaku, “ Biru artinya kamu!”.

“Aku!”, spontanku setengah kaget.

“Ya! kamu!”

“Tuch kan ikut-ikutan ngegombal! Hehe”, balasku

“Hihihi, kamu nie becanda terus ah! Biru itu kamu, seperti langit yang setia sama laut, setia juga sama bumi yang kadang selingkuh sama jingga-nya senja, dan sabar nunggu pekatnya malam!”, kata-kata indah itu keluar dari mulutnya yang manis.

Oh Tuhan! Sadarkanlah aku bila bermimpi! Ucapkku dalam hati. Langit ketujuh sepertinya tak jauh diatasku. Ga bakalan gini ceritanya kalu aku titipkan gelang ini pada Pak Dandang.

“Kalau aku langit yang setia! Senja sama gelapnya siapa donk? Jangan-jangan…!”, candaku padanya.

“E..e..eh, bukan gitu!! Aku gak puny….”

“Iya, aku bercanda kok. Hehehe!”, selaku.

“Ih, kamu jahat! Hihi.”

Tawanya yang manis, semakin meyakinkan diriku kalau aku sudah berada di langit ketujuh!

Yang, sebentar ya, aku mau ke sana dulu!”, Khansa meminta izin padaku.

“Oche! Langit ini akan selalu sabar menantimu!”, jawabku sambil tersenyum.

“Ah, kamu bisa aja! Awas lho jangan kemana-mana! Kalo ampe pergi, berarti kamu bukan langit yang aku maksud..!”, tegasnya padaku.

Aku sedikit tersentuh, dan Cleopatra abad 20 itu semakin menjauh dari pandanganku.

Dan sesaat setelah Khansa pergi, “Ah tidak!”, guru rese itu tampak menggantikan pandanganku dari Khansa. Sepertinya dia benar-benar melihatku! Aku jadi salah tingkah. Aku coba untuk mengendalikan diri. Pura-pura tak tahu, tapi Pak Dandang mendekatiku terus. Langkahnya semakin cepat ke arahku. Aku jadi gak karuan. Dan seketika itu aku berlari meninggalkan tempat duduk di koridor dan berlari menjauhi Pak Dandang. Langit ketujuh terasa menjauh dariku.

“Hei Kamu! Berhenti!!!”, teriak Pak Dandang.

Aku tak menjawab dan semakin kencang berlari. Tiba-tiba..

“Langitku, mau kemana?!!!!!”, itu suara Khansa.

Langkahku diperlambat, keadaanku semakin terdesak! Berhenti berarti Pak Dandang, terus berlari berarti Khansa. Seperti memakan buah simalakama! Akhirnya aku memutuskan untuk terus berlari saja.

“Khansaaaaaaa!!! Nanti aku SMS!!!!”, teriakku pada Khansa menggema ke seluruh ruang sekolah.

Gak peduli apa kata orang. Aku tinggal menunggu hari esok yang sepertinya blur!

“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”

Perjuangan Bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan merupakan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas berdirinya organisasi kebangsaan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 merupakan tonggak kebangkitan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan. Salah satu puncak pergerakan nasional ini adalah diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menjunjung tinggi semangat persatuan. Dengan rasa senasib dan sepenanggungan inilah, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 memberikan adicita perjuangan bangsa yang telah diperjuangkan berabad-abad lamanya.

Gerakan Pramuka pun tidak lepas dari perjuangan bangsa untuk memperoleh kemerdekaan. Terbukti pada masa pergerakan nasional, Boedi Oetomo mendirikan “Nationale Padvinderij”, Syarikat Islam mendirikan “Syarikat Islam Afdeling Padvinderij”, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia. Begitu pun dengan Peristiwa sumpah pemuda yang menjadikan peran Gerakan Kepanduan pada waktu itu tidak bisa dipandang sebelah mata karena semangat Nasionalismenya yang ikut mendorong akan tercapainya Kemerdekaan Indonesia.

Gerakan Pramuka telah menyimpan dengan cara tersendiri catatan sejarah ini. Perjalanan panjang perjuangan Bangsa Indonesia tersebut menjadi kiasan dasar dalam Gerakan Pramuka. Hal ini dapat kita telusuri dari nama golongan dalam jenjang pendidikannya.

Golongan Siaga merupakan wadah pembinaan bagi anak berusia 7 – 10 tahun, merupakan kiasan dari masa menyiagakan masyarakat dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda untuk merintis kemerdekaan yang ditandai dengan Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Siaga juga memiliki maksud bersegera untuk memulai dengan pembangunan yang membutuhkan bantuan kesadaran yang tinggi dan penataan yang baik. Oleh sebab itu, golongan ini memiliki tiga tingkatan yaitu : Siaga Mula, Siaga Bantu, dan Siaga Tata.

Golongan selanjutnya, yaitu Penggalang yang anggotanya anak berusia 11 – 15 tahun, diambil dari masa untuk menggalang persatuan dan kesatuan pemuda yang ditandai dengan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Tingkatan yang ada pun sejalan dengan sejarah perjuangan bangsa untuk mencari ramuan atau bahan-bahan kemudian dirakit atau disusun dan akhirnya dapat diterapkan dalam pembangunan bangsa dan negara. Itulah sebabnya golongan ini memiliki tiga tingkatan, yaitu : Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, dan Penggalang Terap.

Seperti halnya Golongan Siaga dan Penggalang, kelanjutan dari dua golongan tersebut adalah golongan Penegak (beranggotakan remaja berusia 16 – 20 tahun) memiliki kiasan dalam menegakan negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Proklamasi, 17 Agustus 1945. Diperlukannya bantara-bantara atau kader pembangunan yang kuat, baik, terampil dan mermoral yang sanggup melaksanakan pembangunan menjadikan Golongan Penegak ini memiliki dua tingkatan yaitu: Penegak Bantara dan Penegak Laksana.

Pendidikan Gerakan Kepanduan adalah pendidikan yang berkelanjutan, tidak bisa berhenti sampai titik tertentu, seperti halnya perjuangan Bangsa Indonesia yang terus-menerus. Bangsa  Indonesia tidak pernah puas terhadap kemerdekaan yang telah diraih karena esensi dari kemerdekaan itu adalah awal dari perjuangan untuk membangun bangsa. Masa ini disebut masa memandegani atau mengelola pembangunan dan mengisinya yang selanjutnya dikiaskan dalam Golongan Pandega (beranggotakan pemuda berusia 21 – 25 tahun).

Buah dari semua jenjang pendidikan Gerakan Pramuka ini diharapkan dapat melahirkan manusia Indonesia yang dapat membina bangsa dan negara serta dapat menjadi pemimpin yang bisa diandalkan.

Kiasan dasar ini menjadi bukti bahwa Gerakan Pramuka yang lahir dan mengakar di bumi nusantara merupakan bagian terpadu dari gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, Gerakan Pramuka mempunyai andil yang tidak ternilai dalam sejarah perjuangan bangsa. Jiwa kesatria yang patriotik telah mengantarkan para pandu ke medan juang bahu-membahu dengan para pemuda untuk mewujudkan adicita rakyat Indonesia dalam menegakan dan memandegani Negara Kesatuan Republik Indonesia selama-lamanya.

Jangan Terbuai

Posted: May 28, 2008 in diary
Tags: ,

Kemarin adalah hari yang tidak biasanya bagiku. Sekitar pukul 8 pagi aku keluar rumah dengan memakai baju yang sampai sekarang masih menjadi kebanggaan, putih abu-abu! Hari itu aku harus pergi ke sekolah untuk membeli formulir SNM-PTN. Seperti biasanya, sebelum pergi aku mampir dulu ke toko, selain karena motor ada di sana juga karena Selasa ini aku harus memastikan tulisanku di HU Pikiran Rakyat (PR) naik cetak! Tapi kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan, gagal! Ya, mungkin memang sesungguhnya keberhasilan itu akumulasi dari sejumlah kegagalan!

Ini adalah kunjungan pertamaku ke sekolah setelah lebih dari 2 minggu berdiam diri di rumah! Awalnya 2 minggu ini menjadi saat yang menyenangkan karena aku baru saja menyelesaikan beberapa ujian akhir, diantaranya Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, dan Ujian Praktek.  Wajar bila saat-saat liburan sangat aku nantikan. Tapi di akhir 2 minggu ini, aku merasakan penurunan semangat, kebosanan dan akhirnya kemalasan, walaupun ada pekerjaan yang aku lakukan yaitu membuat artikel atau cerita pendek untuk dikirim ke berbagai redaksi harian umum atau majalah (tapi sampai sekarang, belum ada yang naik cetak, hehehe!). Dan saat ini lah, saat yang tepat untuk melepas kebosanan selama liburan.

Pukul 9 lebih aku sampai di sekolah, keadaannya masih sama seerti 2 minggu yang lalu (ya iya kale, hehe). Ruang-ruang kelas yang penuh dengan manusia pembelajar, ruang perpustakaan yang penuh dengan gudang ilmu, kantin yang menjadi tempat melepas penat, lapangan basket yang gersang, karidor-koridor yang sejuk dengan dedaunan disampingnya, Ah, rindu sekali aku dengan susana seperti ini. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan masa-masa terindah ini. Mungkin memang selalu ada resiko saat kita bergerak maju!

Tidak banyak CAU crew (anak kelas Ipa 2) yang datang ke sekolah. Deden, Mimie, Sandi, Zaka, Windy, Yka, Bila, Jojo, Siti, Siska, Safaah, ya… hanya itu…! Sambil menunggu yang lain datang, kami berbincang tentang masa depan! Deden, Zaka, Mimi akan menghadapi USM ITB sebentar lagi (5 hari lagi), mereka bercerita tentang keluh kesah mereka. Mereka bercerita tentang usaha-usaha mereka! Bagi Zaka, USM kali ini adalah yang kedua kali setelah sebelumnya dia gagal. Bisa kurasakan betapa tingginya keinginan mereka untuk cita-citanya itu. Belajar siang malam, pulang pergi les, dan lain sebagainya cukup untuk meyakinkan pernyataanku ini! Begitu juga yang lainnya, Siti atau Yka misalnya yang berkeluh kesah tentang usaha nya masuk ke PTN favorit mereka. Yka yang beberapa minggu lagi akan menghadapi SMUP (Seleksi Masuk Universitas Padjajaran) begitu bersemangat dengan cita-citanya itu, menjadi Bidan. Cici atai Siti yang menjadikan Pendidikan Matematika UPI tujuan utama untuk masa depannya sepertinya begitu lelah dengan usahanya dan pasrah pada Allah. Ya Allah terimakasih engkau memberiku teman-teman yang mau bekerja keras!

Aku Benci ITB

ITB (institut Teknologi Bandung) adalah PTN favorit di Indonesia, Presiden Soekarno, B.J. Habiebie, Hatta Radjasa adalah alumnusnya. Aku pun menjadikan Teknik Arsitektur ITB sebagai pilihan kedua setelah Pendidikan Dokter Unpad pada SNM-PTN nanti. Tapi begitu kecewanya aku saat guru BK meberitahuku bahwa ITB tidak memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa yang menempatkan ITB pada second option, bahkan dia bercerita kebiasaan itu sudah sejak dulu mereka lakukan.

Aku pikir ini sungguh keterlaluan! Ada beberapa jalur untuk masuk ITB, diantaranya USM dan SNM-PTN. Tidak seperti Unpad, calon mahasiswa yang mendaftar ke ITB tidak dibolehkan berspekulasi, artinya hanya boleh memilih salah satu jalur, USM (mandiri) dengan biaya sangat besar (>45 juta, SBM >65 juta) atau SNM-PTN yang murah. Tentu saja kita kan memilih yang murah saja –SNM PTN– tapi kuota untuk itu adalah kurang dari 15 % saja, sungguh sangat kecil, maka dari itu banyak calon mahasiswa yang tidak mempedulikan angka puluhan juta rupiah untuk masuk PTN ini.

Aku pikir, mentang-mentang sekolah favorit yang dibutuhkan mahasiswa (tidak seperti PT swasta pada umumnya yang membutuhkan mahasiswa), ITB begitu sombong sehingga tidak memperbolehkan para calon mahasiswa menempatkannya pada pilihan kedua di SNM PTN. Akhirnya aku berfikir ulang untuk Teknik Arsitektur ini, mungkin sudah takdir untukku memfokuskan diri pada Kedokteran.

Aku pikir yang mengalami hal semacam ini tidak hanya diriku, masih banyak calon mahasiswa lain yang sepertinya kecewa terhadap kebijakan ini. Mereka mungkin akan mengurungkan niatnya pada fakultas teknik tertentu. Sungguh aku benci kesombongan ITB! Apa memang benar di Indonesia, pendidikan hanya untuk orang ber-duit saja? Apa aku haru mengulang kata-kata Taufiq Ismail, “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”!

Lingkungan Kompetisi

Ya Allah terimakasih ya Allah, engkau telah menyadarkanku akan kelengahanku sehingga aku malas dan terbuai dengan kesenangan sesaat (liburan) tanpa aku sadar bahwa urusan lain menantiku dengan penuh harap. Ya Allah terimakasih karena engkau telah menempatkanku pada lingkungan yang mau bekerja keras, sehingga menyadarkanku akan kompetisi yang terjadi. Kini semangatku kembali tumbuh, akan ku manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk kembali merajut masa depanku!

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia) maka bersungguh-sungguhlah(dalam beribadah)!”

(QS Al Insirah :  6 – 7)

Masih ingatkah Anda momen besar apa yang baru saja diperingati Bangsa Indonesia? Ya benar, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)! Momen ini semakin besar karena tepat pada tahun ini kebangkitan nasional berusia 100 tahun. Harkitnas harus kita maknai sebagai bangkitnya persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kebangkitan nasional adalah dampak langsung dari edukasi, salah satu kebijakan dalam politik balas budi (politik etis) Belanda kepada Bangsa Indonesia pada 1901. Dan pada 20 Mei 1908, kaum terpelajar yang diprakarsai oleh Dr. Soetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan rekan-rekannya membentuk organisasi yang diklaim organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Boedi Oetomo. Organisasi tersebut dinilai memulai babak baru perjuangan bangsa setelah gagal dengan usaha fisik. Itulah sebabnya, tanggal berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei) dijadikan Hari Kebangkitan Nasional.

Namun demikian, ada pendapat yang cukup menghebohkan dari Harkitnas ini. Anda pasti kaget apabila 20 Mei dinilai tidak pantas diperingati sebagai Harkitnas! Itulah pendapat yang dilontarkan sebagian orang.

KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam, dalam sebuah bukunya berjudul Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa,  menyebutkan, “BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya. ”. Hal sejenis dikatakan oleh Prof. RE. Elson dalam buku terbarunya, The Idea of Indonesia ,”Boedi Oetomo adalah gerakan budaya, dan anggotanya hanya dari Jawa, maka organisasi tersebut belum menjadi gerakan nasionalis Indonesia.”. Dari sinilah pendapat bahwa Boedi Oetomo mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anasionalis terlontar.

Baik KH. Firdaus AN maupun Prof. RE. Elson setuju apabila Syarikat Islam (awalnya bernama Syarikat Dagang Islam, SDI) dijadikan organisasi kebangsaan pertama di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 16 Oktober 1905 atau tiga tahun sebelum Boedi Oetomo. Organisasi ini pula dinilai bersifat nasional untuk seluruh Bangsa Indonesia dan non kooperatif terhadap Belanda, sehingga banyak anggotanya yang didesak masuk penjara, diasingkan, bahkan ditembak mati.

Terlepas dari pendapat tadi, dalam sebuah tulisannya Profesor Adrian Vickers, Pengajar Sejarah Indonesia di University of Sydney, berpendapat bahwa Boedi Oetomo boleh dikatakan organisasi pertama yang mengandung bibit-bibit politik modern dalam konteks di mana ada dasar pembentukan dalam kungkungan Hindia Belanda. Bahkan sudah ada pengakuan bahwa unsur-unsur politik yang radikal sudah ada dalam Boedi Oetomo. Tidak mungkin ada organisasi lain tanpa adanya Boedi Oetomo terlebih dulu.

Nah lho, bagaimana pendapat Anda sekarang? Pasti bingung! Bagaimanapun perdebatan yang terjadi jangan sampai menjadi dilema yang melembekkan semangat kita sebagai kaum muda terpelajar untuk memajukan bangsa dan negara. Sepertinya kita perlu sedikit mengutip perkataan Dedy Mizwar, “…Bangkit berarti mencuri! Mencuri perhatian dunia dengan prestasi!…”.

The Girls of Riyadh

Posted: May 24, 2008 in book
Tags: ,

Judul : The Girls of Riyadh

Penulis : Rajaa Alsanea

Penerbit : Ramala Books (PT. Cahya Insan Suci)

Penerjemah : Syahid Widi Nugroho (hak terjemah: Ufuk Publishing House)

Tebal : 406 halaman

Tahun Terbit : 2005

Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, aku tidak akan mencinta

Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut

Kalu kutahu akhir semua kisah, tak kan mungkin kumulai merajutnya

–Nizar Qubany

(The Girls of Riyadh halaman 393)

Salah satu buku International Best Seller ini memiliki nilai tambah dalam memikat hati sang pembaca dengan label “DILARANG BEREDAR DI SAUDI ARABIA, KISAH NYATA”. Novel ini merupakan karya perdana Rajaa Al Sanea yang langsung menjadi buah bibir di berbagai forum internet dunia.

Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada tahun 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur Tengah lainnya. Hingga kini, hak terjemah atas buku ini telah terjual ke lebih 25 negara.

Setiap minggu –setelah salat Jumat– seorang tak dikenal menirimnya email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Saudi Arabia. Terdapat lima puluh email dalam setahun. Isinya menghebohkan, kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh : Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumeis.

Akibatnya, masyarakat luas menjadi demam email dan selalu menunggu-nunggu untuk mendapatkan informasi baru. Surat-surat dunia maya ini menimbulkan pemikiran reformatif dan cetusan-cetusan revolusioner di banyak lapisan masyarakat. Surat-surat ini menjadi lahan subur bagi spekulasi, perdebatan, dan berbagai pembicaraan lepas.

Pembaca disarankan mempelajari kebudayaan Saudi Arabia agar bisa lebih memaknai kata “menghebohkan” pada buku ini –meskipun buku ini memberikan gambaran umum tradisi di Saudi. Karena bagi masyarakat demokratis seperti Indonesia, hal semacam ini sangat sering dan wajar terjadi. Hingga tidak ada sesuatu yang istimewa kecuali nilai budaya yang membatasi bagaimana seharusnya cinta sepasang insan manusia disikapi secara lebih dewasa.

Dilema Hari Kebangkitan Nasional

Posted: May 21, 2008 in social
Tags:

Masih ingatkah Anda momen besar apa yang baru saja diperingati Bangsa Indonesia? Ya benar, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)! Momen ini semakin besar karena tepat pada tahun ini kebangkitan nasional berusia 100 tahun. Harkitnas harus kita maknai sebagai bangkitnya persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kebangkitan nasional adalah dampak langsung dari edukasi, salah satu kebijakan dalam politik balas budi (politik etis) Belanda kepada Bangsa Indonesia pada 1901. Dan pada 20 Mei 1908, kaum terpelajar yang diprakarsai oleh Dr. Soetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo dan rekan-rekannya membentuk organisasi yang diklaim organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Boedi Oetomo. Organisasi tersebut dinilai memulai babak baru perjuangan bangsa setelah gagal dengan usaha fisik. Itulah sebabnya, tanggal berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei) dijadikan Hari Kebangkitan Nasional.

Namun demikian, ada pendapat yang cukup menghebohkan dari Harkitnas ini. Anda pasti kaget apabila 20 Mei dinilai tidak pantas diperingati sebagai Harkitnas! Itulah pendapat yang dilontarkan sebagian orang.

KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam, dalam sebuah bukunya berjudul Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa,  menyebutkan, “BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya. ”. Hal sejenis dikatakan oleh Prof. RE. Elson dalam buku terbarunya, The Idea of Indonesia ,”Boedi Oetomo adalah gerakan budaya, dan anggotanya hanya dari Jawa, maka organisasi tersebut belum menjadi gerakan nasionalis Indonesia.”. Dari sinilah pendapat bahwa Boedi Oetomo mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anasionalis terlontar.

Baik KH. Firdaus AN maupun Prof. RE. Elson setuju apabila Syarikat Islam (awalnya bernama Syarikat Dagang Islam, SDI) dijadikan organisasi kebangsaan pertama di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 16 Oktober 1905 atau tiga tahun sebelum Boedi Oetomo. Organisasi ini pula dinilai bersifat nasional untuk seluruh Bangsa Indonesia dan non kooperatif terhadap Belanda, sehingga banyak anggotanya yang didesak masuk penjara, diasingkan, bahkan ditembak mati.

Terlepas dari pendapat tadi, Profesor Adrian Vickers, Pengajar Sejarah Indonesia di University of Sydney, berpendapat bahwa Boedi Oetomo boleh dikatakan organisasi pertama yang mengandung bibit-bibit politik modern dalam konteks di mana ada dasar pembentukan dalam kungkungan Hindia Belanda. Bahkan sudah ada pengakuan bahwa unsur-unsur politik yang radikal sudah ada dalam Boedi Oetomo. Tidak mungkin ada organisasi lain tanpa adanya Boedi Oetomo terlebih dulu.

Nah lho, bagaimana pendapat Anda sekarang? Pasti bingung! Bagaimanapun perdebatan yang terjadi jangan sampai menjadi dilema yang melembekkan semangat kita sebagai kaum muda terpelajar untuk memajukan bangsa dan negara. Sepertinya kita perlu sedikit mengutip perkataan Dedy Mizwar, “…Bangkit berarti mencuri! Mencuri perhatian dunia dengan prestasi!…”.